Welcome

Hi
Welcome to Safira BLOG, search something? Maybe you can find it here.

Enjoy


Sabtu, 18 Mei 2013

Peralatan Hidup Manusia Praaksara di Indonesia (rangkum)


I.           Pengertian peralatan hidup manusia   praaksara  di Indonesia

Untuk mendukung kehidupannya, manusia Purba menggunakan dan membuat beragam peralatan yang terbuat dari bahan batu, kayu, tanduk, dan tulang ikan. Artefak dan fosilnya sebagian besar masih bisa ditemukan kecuali peralatan yang terbuat dari kayu.
  Teknik pembuatan alat masih sederhana sehingga menghasilkan alat-alat yang kasar karena tidak dihaluskan.

II.        5 Tahap Perkembangan Manusia Purba Berdasarkan Peralatan Yang Mereka Pakai

1.                  Zaman Paleolithikum
2.                  Zaman Mezolithikum
3.                  Zaman Neolithikum
4.                  Zaman Megalithikum
5.                  Zaman Logam







1. Zaman Paleolithikum

Paleolithikum berasal dari kata Paleo artinya tua dan Lithos artinya batu sehingga zaman ini disebut zaman batu tua.
Pada masa ini kehidupan manusia prasejarah yang mempunyai corak berburu dan meramu. Berburu adalah kegiatan manusia purba untuk memperoleh makanan dengan cara memburu binatang, memasang perangkap, dan menjeratnya. Meramu adalah kegiatan untuk mendapatkan bahan makanan dengan cara mengumpulkan tumbuh-tumbuhan langsung dari alam.

a) Alat Budaya Pacitan
Alat Budaya Pacitan berasal dari batu. Ada 2, yaitu tradisi batu inti yang terdiri atas Kapak Perimbas (chopper) dan Kapak Genggam (hand adze). Kapak Perimbas digunakan untuk merimbas kayu, pemecah tulang, dan sebagai senjata. Kapak Genggam digunakan untuk menggali, memotong dan menguliti.
Alat-alat ini ditemukan di Punung, Pacitan (Jawa Timur) juga ditemukan di Jampang Kulon (Sukabumi, Jawa Barat) dan dibeberapa tempat lain.

b) Alat Budaya Ngandong
Alat Budaya Ngandong dibuat dari tanduk, tulang, dan duri ikan. Alat budaya ini terdiri atas Sudip, Mata Tombak, dan Belati/Penusuk.
Alat-alat tersebut ditemukan di Ngandong, Blora (Jawa Tengah).

2.  Zaman Mezolithikum

Zaman Mezolithikum artinya zaman Batu Madya (mezo) atau pertengahan. Zaman ini disebut pula zaman “Mengumpulkan Makanan (food gathering) Tingkat Lanjut”, yang dimulai pada akhir zaman es, sekitar 10000 tahun yang lampau. Para ahli memperkirakan manusia yang hidup pada zaman ini adalah bangsa Melanesoide yang merupakan nenek moyang orang Papua, Semang, Aeta, Sakai, dan Aborigin.
Corak hidup masyarakatnya sama seperti pada zaman Paleolithikum yaitu berburu dan meramu.

a)  Kjokkenmoddinger
Kjokkenmoddinger merupakan salah satu bukti adanya kehidupan manusia Praaksara. Kjokkenmoddinger adalah suatu istilah yang berasal dari bahasa Denmark (Kjokken = dapur, Modding = sampah), secara harafiah diartikan sampah-sampah dapur. Kjokkenmoddinger banyak ditemukan di daerah di tepi pantai, adanya Kjokkenmoddinger menunjukkan adanya penduduk pantai yang tinggal dalam rumah-rumah yang bertonggak.
Kjokkenmoddinger banyak ditemukan di sepanjang pantai Sumatra Timur Laut, antara Aceh, Langsa, dan Medan.

b) Abris Sous Rosche
Abris Sous Rosche merupakan gua-gua yang menyerupai ceruk-ceruk di dalam batu karang. Gua tersebut berfungsi untuk memberikan perlindungan kepada manusia Praaksara dari hujan dan panas. Alat-alat yang ditemukan di Abris Sous Rosche diantaranya alat-alat dari batu berupa ujung panah dan flakes, batu-batu penggiling, kapak-kapak yang sudah diasah, alat-alat dari tulang dan tanduk rusa, dan alat-alat dari logam (perunggu dan besi).
Abris Sous Rosche banyak ditemukan di Gua Lawa dekat Sampung (Ponogoro, Madiun), Bojonegoro, dan Lumancong (Sulawesi Selatan).


2.  Zaman Neolithikum
Zaman Neolithikum artinya Zaman Batu muda. Di Indonesia, zaman neolithikum dimulai sekitar 1.500 SM. Cara hidup untuk memenuhi kebutuhannya telah mengalami perubahan pesat, dari cara food gatherer (Pengumpul Makanan) menjadi food producer (Penghasil Makanan), yaitu dengan cara bercocok tanam dan memelihara ternak. Pada masa itu manusia sudah mulai menetap di rumah panggung untuk menghindari binatang buas.

a) Gerabah berasal dari tanahliat yang dibakar. Cara pembuatannya sederhana. Lama-lama cara pembuatan dengan tangan mengalami perkembangan.
b) Kapak Persegi disebut kapak persegi karena kapak ini dibuat dalam penampang persegi. Jenis alat lainnya yang memiliki berbagai ukuran dan berbagai keperluan, yaitu yang besar bernama Beliung atau Pacul dan yang kecil bernama tarah yang berfungsi mengerjakan kayu. Alat ini terbuat dari batu api dan ada juga yang dibuat dari chalcedon yang berbentuk sebuah bidang segi panjang atau bentuk Trapesium.
c) Kapak Lonjong disebut Kapak Lonjong karena dibuat dalam penampang lonjong. Bagian yang tajam diasah dua sisi dan diberi tangkai dengan posisi seperti kapak penebang kayu sekarang. Banyak ditemukan di kawasan timur Indonesia antara lain Sulawesi, Sangihe Talaud; Flores, Maliku, Leti, Tanimbar, dan terutama di Papua.
d) Perhiasan Manusia Purba pada masa bercocok tanam sudah mengenal perhiasan. Perhiasan Neolitik ini dibuat dari batu mulia berupa gelang. Banyak ditemukan di Jawa Barat (Tasikmalaya, Cirebon, dan Bandung)
e) Mata Panah banyak ditemukan di Maros dan Kalumpang (Sulawesi Selatan), Gua Sampung dan Gua Lawa di daerah Tuban, Bojonegoro, serta Punung (Jawa Timur).
f) Gurdi dan Pisau Gurdi dan Pisau Neolitik banyak ditemukan di kawasan tepi danau. Misalnya di Danau Kerinci (Jambi); Danau Bandung, Cangkuanng, Leles, Danau Leuwiliang (Jawa Barat); Danau Tondano, Minahasa (Sulawesi Utara), dansebuah Danau di Flores Barat.

3.  Zaman Megalithikum
Zaman Megalithikum artinya Zaman Batu Besar. Pada Zaman ini manusia sudah mengenal kepercayaan Animisme dan Dinamisme. Dari hasil peninggalannya, diperkirakan manusia pada Zaman Megalithikum ini sudah mengenal bentuk kepercayaan rohaniah, yaitu memperlakukan orang yang meninggal dengan baik sebagai bentuk penghormatan. Adanya kepercayaan ini dapat dilihat dari penemuan bangunan-bangunan kepercayaang Primitif.
Ditemukan di Nias, Sumba, Flores, Sumatra Selatan, Sulawesi Tengah dan Kalimantan.

a) Menhir berbentuk tiang atau tugu batu tunggal yang didirikan untuk menghormati nenek moyang. Banyak ditemukan di Sumatra Selatan, Sulawesi Tengah, dan Kalimantan.
b) Dolmen adalah meja batu yang berkakikan menhir. Berfungsi sebagai tempat sesaji atau pemujaan kepada roh nenek moyang.
c) Sarkofagus atau Keranda bentuknya seperti palung atau lesung, tetapi mempunyai tutup. Berfungsi sebagai peti mayat, didalamnya terdapat tulang belulang manusia bersama bekalnya. Banyak ditemukan di Bali.
d) Kubur Batu berfungsi sebagai peti mayat, hanya beda bentuknya. Kubur batu dibuat dari lempengan batu yang disusun menjadi peti. Banyak ditemukan di daerah Kuningan, Jawa Barat, dan Gilimanuk (Bali).
e) Punden Berundak-undak Bangunan batu ini tersusun secara bertingkat-tingkat. Biasanya pada punden berundak-undak terdapat menhir. Fungsinya sebagai tempat pemujaan. Banyak ditemukan di Lebak daerah Banten Selatan.
f) Waruga yaitu kubur batu berbentuk kubus atau bulat, dibuat dari batu yang utuh. Waruga ditemukan di daerah Sulawesi Tengah dan Utara.
g) Arca. Arca-arca Megalith menggambar binatang atau manusia. Bintang-bintang yang digambarkan ialah gajah, kerbau, harimau, dan monyet. Arca-arca seperti ini ditemukan di Jawa Tengah, Jawa Timur, Sumatra Selatan, dan Lampung.


4.  Zaman Logam
Zaman Logam disebut juga Zaman Perundagian, zaman ini dibagi tiga, yaitu:
  1. Zaman Tembaga
  2. Zaman Perunggu
Zaman Besi
a)  Nekara dapat juga disebut Genderang Perunggukarena terbuat dari perunggu, Genderang Nobat atau Genderang Ketel karena bentuknya semacam berumbung. Banyak ditemukan di Pejeng dan Bebitra (Bali), Sumatra, NTT, Weleri (Jawa Tengah), Pulau Selayar, Pulau  Kei, Pulau Roti, Pulau Sangean serta Banten
b)  Kapak Corong disebut Kapak Corong karena kapak dari perunggu ini bentuknya seperti corong, fungsinya untuk memotong kayu. Banyak ditemukan di Sumatera Selatan, Jawa, Bali, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, dan di Papua.
c) Arca Perunggu yaitu arca-arca berupa manusia dan binatang ditemukan di Bangkinang (Riau), Palembang, Bogor, dan Lumajang (Jawa Timur).
d) Bejana Perunggu berbentuk seperti kepis (wadah ikan pada pemancing) dengan pola hias pilin berganda pada sisi luar. Banyak ditemukan di tepi Danau Kerinci (Jambi), Asemjaran, Sampang dan Madura (Jawa Timur).
e) Perhiasan Perunggu yang ditemukan beragam bentuknya. Banyak ditemukan di Malang, Bali dan Bogor.
f) Manik-manik yang berasal dari Zaman Perunggu ditemukan dalam jumlah yangbesar. Berfungsi sebagai bekal kubur sehingga memberikan corak istimewa pada zaman perunggu.
g) Senjata Beberapa  mata tombak dan belati perunggu ditemukan di Prajekan (Jawa Timur) dan Bajawa (Flores).

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar